1.
PENGERTIAN
STRESS
yang
dimaksud dengan stres (hans Selye, 1950) adalah tubuh yang sifatnya non
spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Misalnya bagaimana respons
tubuh seseorang manakala yang bersangkutan mengalami beban pekerjaan yang
berlebihan. Bila ia sanggup mengatasinya artinya tidak ada gangguan pada fungsi
organ tubuh, maka dikatakan yang bersangkutan tidak mengalami stres. Tetapi
sebaliknya bila ternyata ia mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh
sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya
dengan bail, maka ia mengalami distres.
2.
TAHAPAN
STRESS
Gejala-gejala stres pada diri
seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul
secara lambat. Dan, baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan
mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja
ataupun di pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Van (1979) dalam
penelitiannya membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :
Stres tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres
yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai
berikut :
a. Semangat bekerja besar, berlebihan (over
acting)
b. Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana
biasanya
c. Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan
lebih dari biasanya; namun tanpa disadari
cadangan
energi dihabiskan (all out) disertai rasa gugup yang berlebihan pula
d. Merasa senang dengan pekerjaannya itu
dan semakin bertambah semangat, namun tanpa
disadari cadangan energi semakin
menipis.
Stres tahap II
Dalam tahapan ini dampak stres yang
semula “menyenangkan” sebagaiman diuraikan pada tahap I di atas mulai
menghilang, dan timbul keluha-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi
tidak lagi cukup sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk beristirahat.
Istirahat antara lain dengan tidur yang cukup dan bermanfaat untuk mengisi atau
memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan-keluhan yang sering
dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai
berikut :
a.
Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang
seharusnya merasa segar
b.
Merasa mudah lelah sesudah makan siang
c.
Lekas merasa capai menjelang sore hari
d.
Sering mengeluh lambung atau perut tidak
nyaman (bowel discomfort)
e.
Detakan jantung lebih keras dari
biasanya (berdebar-debar)
f.
Otot punggung dan tengkuk terasa tegang
g.
Tidak bisa santai
Stres tahap III
Bila seseorang itu tetap memaksakan
diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan sebagaimana
diuraikan pada stres tahap II tersebut diatas, maka yang bersangkutan akan
menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu yaitu :
a.
Gangguan lambung dan usus semakin nyata;
misalnya keluhan “maag” (gastri), buang air besar tidak teratur (diare)
b.
Ketegangan otot-otot semakin terasa
c.
Perasaan ketidak-tenangan dan ketegangan
emosional semakin meningkat
d.
Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya
sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan
sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi/dini hari dan
tidak dapat kembali tidur (late insomnia)
e.
Koordinasi tubuh terganggu.
Pada
tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh
terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh
kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami
defisit.
Stres tahap IV
Tidak jarang seseorang pada waktu
memerikasa diri ke dokter sehubungan dengan keluhan-keluhan stres pada tahap
III diatas, oleh dokter dinyatakan tidak sakit karena tidak tidak di temukan
kelainan-kelainan fisik pada organ tubuhnya. Bila hal ini teradi dan yang
bersangkutan terus memaksakan diri untuk bekerja tanpa mengenal istirahat, maka gejala stres tahap IV akan
muncul :
a.
Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah
terasa amat sulit
b.
Aktivitas pekerjaan yang semula
menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit
c.
Yang semula tanggap terhadap situasi
menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai
d.
Ketidakmampuan untuk melaksanakan
kegiatan rutin sehari-hari
e.
Gangguan pola tidur disertai dengan
mimpi-mimpi yang menegangkan
f.
Seringkali menolak ajakan (negativism)
karena tiada semangat dan kegairahan
g.
Daya konsentrasi dan daya ingat menurun
h.
Timbul perasan ketakutan dan kecemasan
yang tidak dapat dielaskan apa penyebabnya.
Stres tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang
itu akan jatuh dalam stres tahap V yang ditandai dengan hal-hal berikut :
a.
Kelelahan fisik dan mental yang semakin
mendalam (physical and psychological exhaustion)
b.
Ketidakmampuan untuk menyelesaikan
pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana
c.
Gangguan sistem pencernaan semakin berat
d.
Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan
yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.
Stres tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks,
seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati.
Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang kali dibawa ke
unit gawat darurat bahakn ke ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena
tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah
sebagai berikut :
a.
Debaran jantung teramat keras
b.
Susah bernafas (sasak dan mefap-megap)
c.
Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan
keringat bercucuran
d.
Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang
ringan
e.
Pingsan atau kolaps (collapse)
Bila dikaji maka keluhan atau gejala-gejala
sebagaimana digambarkan diatas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang
disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh sebagai akibat stresor
psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.
3.
GEJALA
STRESS
1. Fisik,
yaitu sulit tidur, sakit kepala, sulit buang air besar, adanya gangguan
pencernaan, radang
usus, kulit gatal-gatal
2. Emosional, yaitu marah. Mudah
tersinggung, terlalu sensitif, gelisah dan cemas, sedih, mudah menangis
3. Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau
pikirannya, daya ingat menurun, sulit berkonsentrasi, suka melamun.
4. Interpersonal, yaitu acuh, kurang
percaya kepada orang lain, sering mengingkari janji, suka mencari kesalahan
orang lain.
4.
FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI STRESS
1.
Faktor lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menetu akan dapat
menyebabkan pengaruh pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat.
2.
Faktor Organisasi
Beberapa faktor dalam organisasi yang menyebabkan
stres, role demads, interpersonal demads, organizational structure,
organizational leadership.
3.
Faktor Individu
Faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam
keluarga, masalah ekonomi pribadi, dan karakteristik pribadi pada keturunan.
5.
REAKSI
TUBUH TERHADAP STRESS
Seseorang yang mengalami stres dapat
pula dilihat ataupun dirasakan dari perubahan-perubahan yang terjadi pada
tubuhnya. Misalnya antara lain :
a.
Rambut
Warna rambut yang
semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi
kecoklat-coklatan serta kusam, mengalami kerontakan dan memutih sebelum
waktunya.
b.
Mata
Ketajaman mata
seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini
disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya
sehingga mempengaruhi fokus lensa mata.
c.
Telinga
Pendengaran seringkali
terganggu dengan suara berdering (tinitus)
d.
Daya pikir
Kemampuan berpikir dan
mengingat serta konsentrasi menurun. Orang menjadi pelupa dan seringkali
mengeluh sakit kepala atau pusing.
e.
Ekspresi wajah
Wajah seseorang yang
stres nampak tegang dahi berkerut, mimik nampak serius, tidak santai, bicara
berat, sukar untuk senyum/tewrtawa dan kulit muka kedutan (tin facialis)
f.
Mulut
Mulut dan bibir terasa
kering sehingga seseoramg sering minum. Selain daripada itu pada tenggorokan
seolah-olah adaganjalan sehingga ia sukar menelan, hal ini disebabkan karena
otot-otot lingkar ditengah mengalami spasme (muscle cramps) sehingga serasa
“tercekik”
g.
Kulit
pada orang yang
mengalami stres reaksi kulit ber,acam macam; pada kulit dari sebagian tubuh
terasa panas atau dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain kelembapan kulit
juga berubah, kulit menjadi kering. Selain daripada itu perubahan kulit lainnya
adalah merupakan penyakit kulit, seperti munculnya eksim, urtikaria (biduran),
gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne) berlebihan
juga sering dijumpai kedua belah telapak tangan dan kaki berkeringat (basah).
h.
Sistem pernafasan
Pernafasan sesorang
yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya nafas terasa berat dan
sesak disebabkan terjadi penyempitan pada saluran pernafasan mulai dari hidung,
tenggorokan dan otot-otot rongga dada (otot-otot antar tulang iga) mengalami
spasme dan tidak atau kurang elastis sebagaimana biasa nya. Sehingga ia harus
mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu
timbulnya penyakit asma (astha bronciale) disebabkan karena otot-otot pada
saluran nafas paru paru juga mengalami spasme.
6.
CARA
MENGATASI STRESS
1.
Istirahat dan tidur
2.
Olahraga atau latihan teratur
(meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental)
3.
Berhenti merokok
4.
Tidak mengkonsumsi minuman keras
5.
Terapi psikoreligius
1. PENGERTIAN CEMAS
Kecemasan
merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap
stress terkadang dengan disertai kemunculan kecemasan. Namun kecemasan itu
dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam (meresepsikan) rasa
cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyak orang mampu menanganinya tanpa
adanya kesulitan yang berarti.
Kecemasan
(ansietas/anxiely) adalah gangguan alam perasaan (affective) yang ditandai
dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran
yang mendalam dan berkelanjutan,
tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (reality testing ability/RTA,
masih baik), kepribadian masih tertap utuh (tidak menglami keretakan
kepribadian/spilliting of personallity ), perilaku dapat terganggu tetapi masih
dalam batas batas normal.
Gangguan
kecemasan diperkirakan diidap 1 dari 10 orang. Tidak semua orang yang mengalami
stresor psikososial akan menderita gangguan cemas, hal ini tergantung pada
struktur kepribadiannya. Cemas lebih didominasi dari hasil pola asuh orang tua, orang tua yang cenderung
pencemas maka anak akan cemas. Namun hal tersebut bukan diturunkan dari
genetika. Gangguan cemas yang terjadi secara terus menerus lebih dari 2 minggu,
akan menimbulkan penderitaan.
2. GEJALA KLINIS GANGGUAN KECEMASAN
Setiap
orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap stres tergantung pada kondisi
masing-masing individu, beberapa simtom yang muncul tidaklah sama. Kadang
beberapa diantara simtom tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa
individu, lainnya sangat menggangu. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan
oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut :
1.
Cemas, khawatir, firasat buruk, takut
akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung.
2.
Merasa tegang, tidak tenang, gelisah,
mudah terkejut
3.
Takut sendirian, takut pada keramaian
dan banyak orang
4.
Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang
menegangkan
5.
Gangguan konsentrasi dan daya ingat
6.
Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa
sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdering (tinitus), berdebar-debar,
sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan lain
sebagainya.
3.
KLASIFIKASI
GANGGUAN AN ANXIETAS
1. GAM (gangguan anxietas menyeluruh)/GAD
Gangguan cemas menyeluruh merupakan
kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang
berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap
berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari.
Gangguan anxietas menyeluruh atau bisa disebut
dengan penyakit jangan-jangan. Individu akan mengalami kecemasan yang
berlebihan dengan berfikir jangan-jangan. Misalnya individu mengalami sakit
kepala karenan ia akan flue tetapi ia berfikir bahwa jangan-jangan saya
mempunyai penyakit kanker otak. Rasa khawatir yang berlebihan terhadap sesuatu
hal akan menimbulkan penderitaan. Kondisi ini dialami hampir sepanjang hari,
berlangsung 6 bulan.
2.
Gangguan
Panik (panic attack)
Gejala klinis gangguan panik ini yaitu
kecemasan yang datangnya mendadak disertai oleh perasaan takut mati, disebut
juga sebagai serangan panik (panic attack). Penyakit ini hampir sama dengan
penyakit sakit jantung. Seseringkali pasien dibawa ke rumah sakit bagian Unit
Gawat Darurat (UGD), dan seringkali pula dipulangkan karena tidak ditemukan
kelainan fisik yang dapat menyebabkan kematian. tidak jarang dalam satu 2
sampai 3 kali timbul serangan panik, kemudian dibawa lagi ke UGD dan
dipulangkan (berulang kali). Meskipun dokter UGD mengatakan bahwa yang
bersangkutan tidak sakit, ia tidak percaya; dan seharusnya dokter UGD merujuk
pada dokter ahli jiwa (psikoater), seraya mengatakan bahwa apa yang dialaminya
itu bukanlah “serangan jantung” yang akan membawa pada kematian, melainkan
serangan panik sebagai gejala gangguan kecemasan yang berlebihan.
3.
Gangguan
phobik
Gangguan phobik adalah salah satu bentuk
kecemnasan yang didominasi oleh gangguan alam pikir phobia. Phobia adalah
ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu obyek, aktivitas atau
situasi teretentu (spesifik), yang menimbulkan suatu keinginan mendesak untuk
menghindarinya. Rasa ketakutan itu disadari oleh orang yang bersangkutan
sebagai suatu ketakutan yang berlebihan dan tidak masuk akal, namun ia tidak
mampu mengatasinya.
Gangguan phobia
yang sering dijumpai dalam pengalaman sehari-hari adalah sebagai berikut :
1.
Agoraphobia
Seseorang yang menderita agoraphobia
mempunyai ketakutan yang hebat (dan karena itu ia menghindari) terhadap situasi
berada seorang diri atau di tempat umum, dimana ia sulit untuk melarikan diri,
atau ditempat yang tidak tersedia pertolongan apabila datang serangan mendadak
berupa perasaan tak berdaya, misalnya berada di antara orang banyak, dalam
terowongan, diatas jembatan atau menumpang kendaraan umum.
Dampak
dari gangguan ini adalah aktivitas kehidupan sehari-harinya amat tergantung,
ruang lingkup geraknya semakin menyempit, sehingga akhirnya ketakutan atau
perilaku menghindar itu menguasai dirinya. Tidak jarang kalaupun ia harus pergi
ke luar, orang yang menderita agoraphobia terpaksa membawa orang lain untuk
mengawaldirinya guna berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang mendadak.
2. Phobia
Sosial
Seseorang yang menderita phobia sosial
mempunyai rasa takut yang menetap dan tidak rasional terhadap situasi sosial
tertentu dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Ia merasa cemas
karena mungkin dinilai atau menjadi pusat perhatian orang lain. ia merasa takut
bahwa ia akan bereaksi dengan cara yang akan memalukan dirinya. Gangguan
tersebut sudah barang tentu merupakan penderitaan berat bagi dirinya, karena ia
merasa terisolasi dari pergaulan sosial.
Dari
sudut psikologi dapat disebutkan bahwa gangguan phobia adalah suatu mekanisme
defensif dalam upaya seseorang untuk mengatasi kecemasannya. Mekanisme defensif
tersebut dilakukan dengan jalan mengalihkan (displacement) pada ide, obyek,
atau situasi tertentu yang bertindak sebagai simbol dari konflik atau
psikotrauma masa lalu.
4.
Gangguan
obsesif-kompulsif
Obsesi adalah suatu bentuk
kecemasan yang didominasi oleh pikiran yang terpaku (persitence) dan berulang
kali muncul (recurrent). Sedangkan kompulsi adalah perbuatan yang dilakukan
berulang-ulang sebagai konsekuensi dari pikiran yang bercorak obsesif tadi.
Seseorang yang menderita gangguan obsesif-kompulsif tadi akan terganggu dalam
fungsi atau peranan sosialnya.
Sebagai contoh yang sederhana
misalnya orang yang mencuci tangannya berkali-kali (repeated hand washing),
meskipun sebenarnya ia sadar bahwa mencuci tangan pertama kali kembali. Namun,
ia tidak mampu menguasai pikiran obsesif yang menyatakan bahwa tangannya belum
bersih, dan karenanya untuk menghilangkan rasa cemasnya itu ia mengulang
kembali mencuci tangan.
5.
Post Traumatik-Stress
Disorder (PTSD/ Gangguan Stress Pasca Trauma)
PTSD merupakan kecemasan akibat
peristiwa traumatik yang biasanya dialami oleh veteran perang atau orang-orang
yang mengalami bencana alam. PTSD biasnya muncul beberapa tahun setelah
kejadian dan biasanya diawali dengan ASD, jika lebih dari 6 bulan maka orang
tersebut dapat mengembangkan PTSD.
Gangguan
pasca trauma dapat akut, kronis atau lambat, trauma akibat orang, perang,
serangan fisik atau penganiayaan berlangsung lebih lama daripada trauma setelah
bencana alam. Simtom memburuk jika dihadapkan kepada situasi yang mirip. Dapat
terjadi pada anak dan orang dewasa. Simtom pada anak: mimpi tentang monster
atau perubahan tingkah laku. Riwayat psikopatologi pada keluarga memegang
peranan penting
4.
PENDEKATAN
PENANGAN ANXIETAS
1. Pendekatan Biologis
Pendekatan ini biasanya menggunakan variasi
obat-obatan untuk mengobati gangguan kecemasan. Diantaranya golongan
benzodiazepine, valium dan xanax (alprazolam). Mesikipun benzodiazepine
mempunyai efek menenangkan, tetapi dapat mengakibatkan depensi fisik. Pemberian
obat yang lebih 2 minggu dapat mengakibatkan ketergangtungan.
2. Pendekatan Psikodinamika
Dari perspektif
psikodinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada
konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi.
Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan klien merupakan
simbolisasi dari konflik dalam diri mereka. Dengan adanya simbolisasi ini ego
dapat dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan
demikian ego dapat memberi perhatian lebih terhadap tugas-tugas yang lebih
kreatif dan memberi peningkatan. Begitu juga dengan yang modern, akan tetapi
yang modern lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaaan
hubungan sekarang daripada hubungan masa lampau. Selain itu mereka mendorong klien
untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.
3. Pendekatan Belajar
Efektifitas penanganan kecemasan dengan pendekatan
belajar telah banyak dibenarkan oleh beberapa riset. Inti dari pendekatan
belajar adalah usaha untuk membantu individu menjadi lebih efektif dalam
menghadapi situasi yang menjadi penyebab munculnya kecemasan tersebut.
1.
PENGERTIAN
DEPRESI
Depresi
adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan
kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup,
tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas, kepribadian tetap utuh
perilaku dapat terganggu tetapi dalam batas-batas normal.
Orang
yang mengalami depresi penyebab utama tindakan bunuh diri, dan tindakan ini
menduduki urutan ke-6 dari penyebab kematian utama dui amerika serikat.
2. PENYEBAB DEPRESI
a. Usia harapan hidup
semakin bertambah
b. Stresor psikososial semakin berat
c.
Berbagai penyakit krinik semakin
bertambah
d.
Kehidupan beragama semakin ditinggalkan.
3. GEJALA KLINIS DEPRESI
Depresi adalah salah
satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan, yang ditandai dengan
kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa
dan lain sebagainya. Secara lengkap gejal klinis depresi adalah sebagai berikut
:
a.
Afek disforik, yaitu perasaan murung,
sedih, gairah hidup menurun, tidak semangat, merasa tidak berdaya
b.
Perasaan bersalah, berdosa, penyesalan
c.
Nafsu makan menurun
d.
Berat badan menurun
e.
Konsentrasi dan daya ingat menurun
f.
Gangguan tidur : insomnia (sukar/tidak
dapat tidur) atau sebaliknya hipersomnia (terlalu banyak tidur). Gangguan ini
sering kali ditandai dengan mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, misalnya mimpi
orang yang telah meninggal
g.
Agitasi atau retardasi paikomotor (gaduh
gelisah atau lemah tak berdaya)